Photography

Foto Jadi Aneh? Mungkin Bukan Salah Fotografernya, Sob. Cek 5 Hal Ini Dulu.

Foto Jadi Aneh? Mungkin Bukan Salah Fotografernya, Sob.
Cek 5 Hal Ini Dulu

Beberapa hari lalu, Mimin lagi asyik nyortir foto, eh, ada klien lama yang curhat lewat WhatsApp. Dia kirim foto dari studio lain setahun lalu dan bilang, "Min, kenapa ya foto keluarga kami yang ini hasilnya aneh banget? Muka tegang semua, warnanya tabrakan. Padahal fotografernya mahal lho."

Mimin senyum-senyum sendiri. Ini bukan kali pertama denger cerita begini. Banyak yang mikir, kalau udah bayar fotografer profesional dengan kamera yang harganya bisa buat DP rumah, hasil foto pasti auto-keren. Padahal, ada rahasia kecil yang sering dilupakan: persiapan dari pihak klien itu sendiri punya andil 50% dari hasil akhir.

Fotografer itu ibarat koki, Sob. Dia bisa menyajikan hidangan paling lezat, tapi kalau bahan baku yang dibawa (yaitu kesiapan kamu dan keluarga) kurang segar, rasanya pasti kurang nendang. Nah, biar sesi fotomu nanti nggak berakhir jadi kenangan yang "aneh", Mimin mau bocorin lima kesalahan sepele yang sering banget terjadi dan gimana cara menghindarinya.

1. Datang di Waktu yang Salah, Alias Mengabaikan Jam Biologis

Ini kesalahan paling umum tapi dampaknya paling fatal. Bayangin skenario ini ya, Sob. Kamu booking sesi foto jam 3 sore di akhir pekan. Kedengarannya ideal, kan? Tapi coba kita lihat realitanya. Si kecil baru bangun tidur siang, mood-nya masih berantakan dan butuh waktu buat "kumpulin nyawa". Ayah baru aja selesai urusan kerjaan yang bikin pusing. Sementara Ibu udah capek duluan ngurusin persiapan dari pagi.

Hasilnya bisa ditebak: anak jadi rewel, orang tua kelihatan lelah, dan senyum yang keluar itu senyum terpaksa yang kaku banget di kamera. Energi itu nggak bisa bohong, lho. Kalau semua orang datang dalam kondisi lelah atau ngantuk, sebagus apa pun arahan fotografer, ekspresi natural itu susah banget didapat.

Solusinya gimana? Coba deh, kenali "golden hour" versi keluargamu sendiri. Buat yang punya balita, pagi hari sekitar jam 9 sampai 11 biasanya jadi waktu terbaik. Mereka sudah sarapan, energinya penuh, dan mood-nya lagi bagus-bagusnya. Kalau untuk sesi prewedding outdoor, sore hari sekitar jam 4 sampai setengah 6 itu juaranya, karena cahaya mataharinya lembut dan hangat, bikin foto jadi lebih dramatis. Intinya, jangan paksakan jadwal. Obrolin sama fotografermu waktu terbaik buat semua anggota keluarga.

2. Kostum yang "Bertengkar" di Depan Kamera

Pernah lihat foto keluarga di mana si Ibu pakai daster motif kembang gede-gede, Ayah pakai kaos band warna hitam, Kakak pakai kemeja kotak-kotak, dan si Adik pakai baju gambar kartun warna-warni? Semuanya bagus kalau dipakai sendiri-sendiri, tapi pas disatuin dalam satu frame, mata kita jadi bingung mau fokus ke mana. Inilah yang Mimin sebut sebagai kostum yang "bertengkar".

Foto yang bagus itu harusnya fokus ke ekspresi dan interaksi antar anggota keluarga, bukan ke motif baju yang saling tabrakan. Kesalahan ini bikin foto jadi kelihatan "berisik" dan kurang harmonis.

Cara menghindarinya gampang banget, kok. Coba terapkan konsep palet warna senada, bukan seragam. Misalnya, tentukan satu tema warna seperti earth tone (krem, cokelat muda, abu-abu, navy) atau warna pastel (baby blue, soft pink). Dari situ, setiap anggota keluarga bisa pilih pakaian dengan warna yang masuk dalam palet tersebut. Hindari motif yang terlalu ramai, logo atau tulisan besar di dada, dan warna neon yang terlalu mencolok. Cukup pilih satu atau dua warna dominan, sisanya biarkan netral. Dijamin, hasilnya bakal jauh lebih estetik dan enak dilihat.

3. Lupa Menyiapkan "Kanvas" Sebelum Makeup

Buat para wanita, ini penting banget, Sob. Seringkali karena buru-buru, kita datang ke studio dengan kondisi wajah seadanya. Mungkin masih ada sisa minyak setelah perjalanan, atau bahkan lupa membersihkan muka. Ada juga yang sudah pakai skincare atau foundation tebal dari rumah, dengan harapan mempersingkat waktu.

Padahal, ini justru bisa jadi masalah buat Makeup Artist (MUA). Kulit yang berminyak atau terlalu "berat" karena produk skincare yang salah akan membuat makeup susah menempel sempurna. Hasilnya bisa jadi cakey (terlihat tebal dan pecah-pecah) atau malah terlalu mengkilap di bawah sorotan lampu studio.

Maka dari itu, anggaplah wajahmu itu kanvas. Sebelum dilukis, kanvasnya harus bersih. Cukup cuci muka dan gunakan pelembap ringan sekitar satu jam sebelum sesi. Biarkan wajahmu "polos" tanpa foundation. Jangan lupa rapikan alis dan sisir rambut. Dengan kanvas yang siap, MUA bisa bekerja lebih cepat dan hasil makeup-nya pun akan terlihat lebih natural dan tahan lama.

4. Terlalu Banyak "Sutradara" di Lokasi Foto

Terlalu Banyak Sutradara di Lokasi Foto

Ini dia nih, biang keladi yang bisa bikin suasana jadi tegang. Kamu mungkin berniat baik dengan mengajak seluruh keluarga besar untuk menemani sesi foto keluarga inti. Tapi yang terjadi kemudian adalah, ada Om yang teriak dari belakang kamera, "Senyum dong!", Tante yang nyeletuk, "Posenya jangan gitu!", atau sepupu yang berusaha bikin si kecil ketawa tapi malah bikin dia takut.

Terlalu banyak orang yang tidak difoto di dalam studio justru akan memecah konsentrasi. Kamu sebagai subjek foto jadi bingung harus dengerin siapa. Anak-anak bisa merasa terintimidasi. Dan yang paling penting, fotografer jadi kesulitan membangun koneksi dan mengarahkan gayamu.

Solusinya, batasi rombongan yang ikut. Cukup ajak satu atau dua orang yang memang bisa membantu menenangkan anak atau sekadar jadi pendukung mental. Biarkan fotografer yang memegang kendali penuh untuk mengarahkan pose dan ekspresi. Percayalah pada prosesnya. Kalau memang mau ada sesi bersama keluarga besar, jadwalkan di akhir sesi utama.

5. Datang Tanpa Konsep Alias "Terserah Fotografernya Aja"

Kalimat "Terserah Mas/Mbak fotografernya aja, kami ikut aja," mungkin terdengar pasrah dan kooperatif. Tapi jujur, Sob, kalimat ini seringkali membuat fotografer jadi bingung harus mulai dari mana. Tanpa arahan atau ekspektasi yang jelas, hasilnya bisa jadi sangat generik dan nggak mencerminkan kepribadian keluargamu.

Fotografer memang ahli dalam teknis dan arahan gaya, tapi dia bukan pembaca pikiran. Dia nggak tahu kalau kamu sebetulnya suka gaya foto yang lebih candid dan natural, atau mungkin lebih suka yang formal dan elegan.

Sebelum hari H, luangkan sedikit waktu buat diskusi bareng fotografer. Coba cari 2-3 foto referensi di internet yang kamu suka gayanya. Diskusikan soal tema, lokasi, properti yang mungkin mau dipakai, atau bahkan mood yang ingin kamu ciptakan. Di Bestfotostudio sendiri, kami selalu mengirimkan form konsultasi konsep terlebih dahulu. Dengan begitu, kita bisa berkolaborasi untuk menciptakan hasil yang benar-benar sesuai dengan harapanmu.

Kesimpulan: Foto Keren Itu Hasil Kerja Tim

Pada akhirnya, menghasilkan foto yang bagus itu bukan cuma soal kamera canggih atau fotografer andal. Ini adalah tentang kerja sama. Persiapan yang matang dari kamu sebagai klien adalah kunci untuk membuka potensi terbaik dari sesi fotomu.

Dengan menghindari lima kesalahan di atas, kamu nggak cuma bakal dapat hasil foto yang lebih natural dan berkesan, tapi juga bisa menikmati prosesnya tanpa stres. Karena sebuah foto yang baik bukan cuma merekam gambar, tapi juga merekam persiapan, momen, dan emosi yang tulus.

Kalau Sobat masih bingung atau butuh teman diskusi buat persiapan fotonya, jangan ragu hubungi Mimin ya. Kita bisa ngobrol-ngobrol santai dulu, gratis kok.

Kontak kami:

Share the Post: