Ada sebuah fase dalam hidup berumah tangga yang sunyinya itu nggak terdengar siapa pun, tapi rasanya riuh banget di dalam dada. Saat Sobat dan pasangan menitipkan harapan besar, eh, yang datang justru gesekan emosi.
Kalau kita bedah pakai kacamata psikologi dan neurosains, ini sebenarnya bukan kebetulan, Sob. Pikiran bawah sadar kalian sebagai pasangan itu bekerja seperti satu sistem emosi yang utuh. Kalau di dalam "sistem" itu masih ada kecemasan, dendam kecil yang dipendam, atau keyakinan kalau "nyari duit itu susah banget", maka sistem saraf kolektif kalian bakal masuk ke mode bertahan (survival).
Masalahnya, kalau lagi di mode bertahan, kita jadi susah melihat peluang. Kita jadi menutup diri, bukan malah menerima. Jadi, kalau Sobat merasa lagi diuji, itu bukan berarti Tuhan lagi nutup pintu rezeki, lho. Justru sebaliknya: Tuhan lagi ngebersihin wadahnya.
Sama kayak pas Mimin mau memotret, kalau lensanya kotor atau berdebu, hasil fotonya nggak akan maksimal secanggih apa pun kameranya. Begitu juga rumah tangga kita. Ujian itu ibarat proses "beberes" sebelum tamu agung (rezeki dan kebahagiaan) datang berkunjung.
Secara ilmiah, peluang itu lebih gampang mampir ke pikiran yang tenang dan emosi yang selaras. Uang nggak suka mampir ke rumah tangga yang penuh doa tapi isinya kepanikan. Rezeki agak segan masuk ke batin pasangan yang saling berharap, tapi diam-diam saling menekan.
Jadi, saat komunikasi Sobat mulai membaik dan kalian belajar untuk saling menerima tanpa menghakimi, di situlah rezeki mulai menemukan alamat rumah kalian dengan tepat.